Baca Berita

DEWAN KOTA PUSAKA KAWAL PENGUATAN KOTA BUDAYA

Oleh : naayadubek | 23 Maret 2017 | Dibaca : 164 Pengunjung

Denpasar, Dalam rangka penguatan Denpasar sebagai kota budaya dengan IPM, indeks kota budaya, kebahagian dan kepuasaan publik yang tinggi secara sinergis. Keberadaan Dewan Kota Pusaka Denpasar amat penting artinya dalam mengawal dan memperkuat Denpasar sebagai Kota Budaya. Untuk memperkenalkan keberadaan Dewan Kota Pusaka, Selasa (21/3) bertempat di Kantor Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, digelar acara sosialisasi. Turut hadir Pimpinan SKPD terkait, Para Camat, Kades/Lurah, Bendesa, para pakar, akademisi dan lain-lain, Selasa (21/3) di ruang Sabha Lango Dinas Kebudayaan Denpasar.

Acara sosialisasi yang dibuka Kabid Dokumen A.A. Sinduwati mewakili Plt. Kepala Dinas Kebudayaan, menghadirkan beberapa narasumber seperti; I Wayan Geriya, Komang Astita, Md. Mudra serta bertindak selaku moderator Dewa Windu Sancaya. I Wayan Geriya selaku narasumber dalam pemaparannya mengatakan, masyarakat Denpasar patut berbangga. Denpasar sebagai ibukota Provinsi Bali, menjadi salah satu dari 34 provinsi di Indonesia. yang mendapat predikat “The Island of Art dan The Island of Heritage”. Dengan kekayaan, keragaman dan kejeniusan pusaka alam, budaya dan saujana telah memeperoleh tiga penghargaan Warisan Budaya Dunia dari UNESCO. Yakni Keris Pusaka (UNESCO 2015), Subak  (UNESCO, 2005) dan Seni Tari Bali (UNESCO, 2015). Di Provinsi Bali telah tercakup lima kabupaten/kota kedalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI); Denpasar,  Gianyar, Buleleng, Bangli, Karangasem (JKPI, 2010) dan Kota Denpasar juga telah termasuk ke dalam Jaringan Kota Pusaka Dunia The Organization of World Heritage City (OWHC, 2013). Melihat potensi dulu, kini dan ke depan, seluruh dari sembilan kabupaten/kota di Bali berdasar kekayaan, keragaman dan kejeniusan pusaka alam, budaya dan saujana bepeluang untuk bergabung ke dalam JKPI dan OWHC. Demi pemberdayaan, kelestaian dan keberlanjutan eksistensi pusaka bagi kehidupan, penghidupan dan harmoni lokal, nasional, global. Disatu sisi, masyarakat Denpasar memberikan respon yang sangat kreatif dan positip terkait pengakuan terhadap Kota Denpasar sebagai anggota JKPI dan OWHC. Hal ini menumbuhkan tekad dan semangat publik dalam partisipasi aktif dan respon kreatif, terangnya. Melalui berbagai aksi positif seperti;  Revitalisasi Pusaka Budaya sebagai modal pembangunan kota kedepan, berkembangnya aneka festival berbasis pusaka, seperti: Denpasar Festival, Sanur Village Festival, Festival Pesona Pulau Serangan dan lain-lain. Menguatnya tradisi pusaka seperti Ritual Pangerebongan di Kesiman, Tradisi Med-Medan Sesetan, tumbuhnya kader-kader pelestari, komunitas kreatif sampai Dewan Pusaka Kota Denpasar, berkembangnya aneka kajian, penerbitan sampai dokumentasi tentang pusaka serta berkembangnya ekonomi kreatif berbasis pusaka budaya unggulan untuk peningkatan nilai tambah secara ekonomi, teknologi, edukasi dan kultural. Di tengah respon publik yang kreatif dan partisipatif tersebut, Walikota Denpasar I B Rai D. Mantra juga menelorkan rumusan konseptual tentang Monumen Maya (Intangible Monument) menyandingi dan mendampingi rumusan tentang Monumen Fisik (Tangible Monument). Monumen Maya yang dimaksud adalah bukan monumen dari tumpukan batu, pasir dan beton, melainkan adalah bangunan kesadaran berbasis filosofi humanitas, orientasi nilai keutamaan tentang kehidupan dan penghidupan. Monumen maya hadir sebagai penyeimbang, penguat dan harmoni terhadap monumen fisik secara berkelanjutan. (Sudiana.Humbud.Dps.).


Oleh : naayadubek | 23 Maret 2017 | Dibaca : 164 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Facebook
Twitter