Baca Berita

WAYANG SUDAMALA PUASKAN KRAMA HINDU YOGYA

Oleh : naayadubek | 03 Mei 2017 | Dibaca : 215 Pengunjung

Denpasar, Didukung 26 seniman, wayang inovatif dengan lakon “Sudamala” persembahan seniman Pepadi Kota Denpasar benar-benar puaskan harapan krama HinduYogyakarta. Krama Hindu yang tumpah ruah memenuhi Wantilan Santi Sesana benar-benar dibuat kagum oleh penampilan para seniman yang begitu atraktif dengan juk-juk yang segar, Sabtu, 29/4) lalu di Wantilan Santi Sesana Pura Jagatnatha Banguntapan-Bantul-Yogyakarta dalam rangka Dharma Santi Nyepi 1939 krama Hindu Yogyakarta.

Diawali dengan prolog pembuka oleh dalang senior I Made Kembar, yang menjelaskan bahwa diambilnya lakon “Sudamala” untuk menegaskan kembali kepada khalayak ramai bahwa peran wanita dalam kehidupan berumahtangga penting artinya. Dikatakan Made Kembar bahwa perangai wanita jauh lebih halus dibanding pria dan rasa cintanya terhadap keluarga begitu luar biasa. Hal inilah yang digambarkan dalam lakon “Sudamala” dimana Dewi Kunti sebagai sosok wanita amat mencintai keluarganya termasuk putra kesayangan satu-satunya yakni Sahadewa. Kecintaan Dewi Kunti terhadap Sahadewa membuat cemburu Dewi Durga yang terkenal dengan kesaktiannya. Hingga Dewi Durga dengan para pengiringnya membuat siasat untuk memisahkan Dewi Kunti dengan anaknya. Dengan kekuatan yang dimiliki, akhirnya Dewi Durga mampu membalikkan ingatan Dewi Kunti untuk berbalik ingin membunuh putra kesanyangannya Sahadewa. Namun keinginan ini tak tercapai mengingat Sahadewa merupakan titisan dari langit yakni putra para Dewa. Dengan kekuatan yang dimiliki Sahadewa, maka semua keinginan jahat tersebut akhirnya berhasil ditumpas. Hal ini membuat marah Dewi Durga hingga merubah dirinya menjadi Rangda, demikian pula dengan Sahadewa seketika itu pula merubah dirinya menjadi Barong Ket. Kedua kekuatan ini akhirnya bertempur habis-habisan, hingga tak satupun ada yang kalah ataupun menang. Karena Barong dan Rangda merupakan simbul atau perwujudan kekuatan baik dan buruk atau hitam dan putih yang selalu berdampingan. Yang menarik dari wayang inovatif ini adalah keahlian para pemain memadukan dalang orang, wayang kulit dengan media kelir serta sentuhan tata lighting/cahaya, sehingga tak terkesan ada ruang kosong. Dengan penata tabuh Agus Santiago, Penata Tari Gde Arcana, penampilan seniman Pepadi Kota Denpasar benar-benar memukau. (Sdn.Humbud.Dps.). 


Oleh : naayadubek | 03 Mei 2017 | Dibaca : 215 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Facebook
Twitter