Baca Berita

BERI PEMAHAMAN MENDALAM TENTANG “SATE RENTENG, LAWAR & BANTEN PRANI”

Oleh : naayadubek | 09 Februari 2018 | Dibaca : 423 Pengunjung

Disbud Gelar Workshop

 

Denpasar, untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang arti dan makna “Sate Renteng, Lawar dan Banten Prani”, dikalangan generasi muda. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar gelar workshoop sehari melibatkan siswa-siswi tingkat SMP Se-Kota Denpasar, Kamis (8/2) di Aula Sabho Lango Dinas Kebudayaan Denpasar.

 

Kabid kebudayaan Made Wedana dalam sambutannya mengatakan, penting mengadakan workshop tentang “Sate Renteng, Lawar dan Banten Prani”, mengingat banyak diantara generasi muda saat ini belum paham tentang arti dan makna ketiga bahan tersebut. Oleh karenanya dalam workshop sehari ini, pihaknya sengaja mendatangkan pakar dibidangnya seperti Guru Anom Ranuara. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman lebih mendalam tentang apa makna dari “Sate Renteng, Lawar dan Banten Prani”. Seperti misalnya apa saja kelengkapan sarana yang dibutuhkan, apa makna dan arti dari semua sarana tersebut, bagaimana tata letaknya dan lain sebagainya. Dengan pemahaman ini paling tidak para generasi muda nantinya akan memdapatkan bekal pengetahuan tentang arti dan makna semua bahan tersebut. Dan berhapar akan mengeketok tularkan kepada mereka yang belum paham tentang apa arti dan makna dari semua bahan ini, terangnya.

Sementara Gde Anom Ranuara atau sering dipanggil Guru Anom sosok seniman serba bisa yang menjadi narasumber dalam kegiatan workshop kali ini. Mengatakan, banyak sekali makna-makna yang terkandung dalam bahan sate renteng, lawar maupun banten prani. Seperti sate renteng atau sering disebut gayah yang merupakan salah satu bentuk uparengga yakni sarana yang dipakai melengkapi upacara yadnya. Sate ini memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan jenis-jenis sate lainnya seperti sate asem sate pusut dan lain-lain. Sate renteng memiliki bentuk dan ornamen yang khas seperti ketika dibentuk ada yang berupa   gantungan seperti ngelenteng, mekebat, krucut dan lain sebagainya. Dan berdasarkan beberapa tulisan, sate atau jatah ini ada beberapa jenis seperti; lembat sari, lembat angga, lembat wilis dan lain-lain. Begitu religiusnya sate ini sehingga dalam pembuatan maupun penempatannya harus benar, terang Guru Anom. Demikian pula dalam pembuatan lawar dan benten prani, bahan, bentuk serta penempatannya juga harus benar. Dalam kegiatan workshop kemarin, selain diberikan pemahaman secara lisan peserta juga diberikan praktek langsung bagaimana cara membuat sate renteng, banten prani dan lawar. (Sdn.Humbud.Dps.).


Oleh : naayadubek | 09 Februari 2018 | Dibaca : 423 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Foto
PKB XL Tahun 2018
Video
Tari Tenggek
Facebook
Twitter